Satu Pekan di Bawah Langit Cianjur
![]() |
| Doc. Kelompok pelatihan pengolahan Daging |
Punggung terasa kaku, dan kantuk beberapa kali menyerang, namun sepasang mata tetap menatap lurus ke depan. Ada getar tak biasa di dada sebuah perasaan yang campur aduk antara lelah, haru, dan rasa tidak percaya.
Bagi seorang yang mendedikasikan hidupnya di jalur pendidikan, perjalanan ini seperti sebuah fragmen mimpi yang melompat jadi kenyataan.
“Diundang oleh negara," mengulang kalimat di surat resmi yang tersimpan rapi di dalam tas. Sebuah undangan terhormat untuk berkumpul di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Pertanian Cianjur.
Hari pertama menapakkan kaki di kompleks, atmosfer nusantara langsung menyergap indra. berdiri di tengah halaman, memandangi wajah-wajah baru yang datang dari 38 provinsi berbeda.
Ada yang mengenakan batik dengan motif khasnya, ada yang berdialek lembut khas Jawa, dan ada pula yang membawa ketegasan logat Indonesia Timur. Berbagai suku, bahasa, dan adat istiadat tumpah ruah di satu tempat.
Namun ajaibnya, tidak ada rasa asing. Payung besar bernama "Pelatihan Pengolahan Daging" seolah menjadi lem yang merekatkan seketika.
Setiap pagi, tepat pukul 08.00 WIB, sebuah rutinitas dimulai.
Lonceng waktu seakan mengingatkan tugas mulia dan ratusan peserta lainnya akan berjalan beriringan, melangkah bersama menuju ruang-ruang kelas tempat mengampu ilmu. Di dalam ruangan bukan lagi sekadar angka atau perwakilan daerah, melainkan para pembelajar yang haus akan inovasi demi mencerdaskan anak-anak bangsa yang tak terjangkau oleh sekolah formal.
Di luar jam kelas, kita berkumpul bergandengan menapaki jalanan berpaving, bergurau, dan bercerita tentang kegetiran serta indahnya berjuang di dunia Pendidikan. Kedekatan tumbuh begitu cepat, begitu magis. Saking akrabnya, mereka bagaikan saudara kandung yang sudah saling mengenal dan bertemu setiap hari sejak kecil.
Waktu satu pekan ternyata bergulir secepat kedipan mata. Malam pelepasan pun tiba, ditandai dengan udara Cianjur yang semakin dingin, namun menghangat oleh rasa haru di dalam aula.
Berdiri di sudut ruangan, memandangi sahabat-sahabat saling berjatan tangan saling merangkul saling berpamitan. Sebelum melangkah keluar untuk bersiap kembali menempuh jarak 876 kilometer pulang ke ujung Madura, berbalik menatap sisa-sisa kebersamaan ma. Dengan senyum khasnya dan kerendahan hati yang mendalam,
"Sahabat-sahabatku semua, Mohon maafkan saya, mohon maafkan kami jika selama sepekan berkumpul ada perkataan yang kurang pantas didengar. Mungkin dari logat bahasa Madura saya yang kaku, atau dari gurauan-gurauan saya yang tidak sengaja menyinggung hati kalian selama kita bersama.

















